Lynx berdiri di tengah arena, menatap langsung ke arah pemimpin Monrest yang baru saja memulai kehancuran di tempat itu. Tubuh makhluk itu, yang sebelumnya adalah manusia, kini berubah menjadi raksasa bersisik dengan taring panjang dan mata merah menyala. Suara napasnya yang berat terdengar jelas, membuat bulu kuduk berdiri.

"Kita tidak akan menyerah," katanya pelan tapi tegas.

Kanha, yang berdiri di sampingnya, menatap Lynx dengan mata penuh keyakinan. "Aku tidak takut kalau Kak Lynx di sini. Mereka pasti bisa dikalahkan!"

Lynx menunduk sedikit, menepuk kepala Kanha dengan lembut. "Tetap dekat denganku, Kanha. Dan jangan lakukan sesuatu yang berbahaya."

Valgor melangkah lebih dekat ke arah Lynx, tubuh monsternya berkilauan di bawah sinar matahari yang hampir tenggelam. "Jadi, kau yang mereka bicarakan? Orang asing yang mengalahkan para prajurit kami?"

Lynx hanya menatapnya tanpa ekspresi.

"Aku akan menikmati membunuhmu," kata Valgor, seringainya memperlihatkan taring-taring tajam.

Tapi Lynx hanya menjawab dengan satu kalimat, suaranya dingin dan tajam. "Kalau begitu, kau akan kecewa."

Dengan situasi yang semakin tegang, orang-orang Raksa hanya bisa berharap keajaiban terjadi. Kepungan Monrest semakin rapat, dan pertumpahan darah tampak tak terelakkan.

Kepanikan masih menyelimuti arena. Para wanita dan anak-anak terus menangis di tengah kepungan prajurit Monrest. Para pria tua yang tersisa berusaha menenangkan mereka, sementara para pejuang Raksa yang tersisa mencoba menjaga barisan mereka, meskipun ketakutan jelas terlihat di wajah mereka.

"Sungguh tidak kuduga, suku Monrest bisa bertindak selicik ini?" Lynx akhirnya berbicara, suaranya tenang tapi penuh tekanan.

"Menghadapi tikus busuk seperti kalian yang ada dimana-mana memang harus menggunakan akal untuk membasmi hingga ke akar-akarnya," jawab pemimpin itu dengan suara bergetar rendah, seolah setiap kata yang keluar disertai ancaman. "Dan aku, Valgor, adalah algojo Monrest. Kematian suku Raksa ada di tanganku hari ini."

"Belum tentu," jawab Lynx dengan santai, meskipun ia tahu situasinya tidak menguntungkan.

Salah satu panitia, pria tua berambut putih bernama Karsan, melangkah mendekati Lynx dengan tergesa. "Lynx, ada jalan rahasia," bisiknya. "Tersembunyi di balik salah satu bangunan ini, sebuah terowongan alami. Kami memilih tempat ini memang agar kami bisa mempersiapkan jalan andaikata ada masalah saat pertandingan. Sayangnya kita tidak menduga mereka menggunakan cara ini untuk menjebak kita. Jika kita bisa membuat mereka sibuk—"

Lynx menoleh sedikit. "Kemana terowongan itu mengarah?"

"Ke luar lembah. Tempat aman di sisi timur," jawab Karsan.

Lynx mengangguk. Rencana mulai terbentuk di benaknya. Namun, untuk memberi waktu pada orang-orang Raksa melarikan diri, dia perlu mengalihkan perhatian Valgor dan pasukannya.

Lynx memiringkan tubuhnya sedikit ke arah penonton yang terperangkap. Dengan suara pelan, ia berbicara pada Narendra, Kanha, dan Arkha yang berada di dekatnya. “Arkha, pastikan semuanya bersiap. Kita tidak akan bisa keluar kecuali mereka teralihkan, tunggu instruksiku.”

“Apa kau mencoba sesuatu, Lynx?” ejek Valgor, melihat gerakan kecil di antara kerumunan. “Kau tidak bisa melarikan diri. Seluruh arena ini dikepung oleh 300 prajurit Monrest. Tidak ada jalan keluar.”

Lynx hanya menatapnya dingin. “Aku tidak melarikan diri. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyentuh orang-orang ini.”

Mata Valgor menyipit, penuh kebencian. “Sejak awal, aku tidak yakin ketika orang-orang ini menyebut namamu, fisikmu terlihat lemah seperti wanita."

Sambil menghentakkan kakinya ketanah, Valgor melanjutkan. "Orang-orang suku kami berbicara tentang seorang pemuda yang bisa mengalahkan Revan dan Kargo sendirian. Awalnya, aku berpikir itu hanya cerita. Tapi saat aku melihatmu bertarung dan melihat sendiri kemampuanmu, aku tahu bahwa cerita itu benar.”

Dia melangkah mendekat, tubuh raksasanya mengguncang tanah di bawahnya. “Demon akan sangat senang jika aku membawa kepalamu, Lynx. Kau bahkan mungkin akan jadi pengorbanan berikutnya.”

“Kalau begitu, kau harus menangkapku dulu,” jawab Lynx dingin, mengangkat parangnya dengan tenang. “Tapi sebelum itu, kau akan menyesali keputusanmu untuk menyerang orang-orang ini.”

Dia melangkah maju, berdiri beberapa langkah dari Valgor. "Jika kau ingin membunuh mereka semua, kau harus mengalahkanku terlebih dahulu. Aku menantangmu untuk bertarung, satu lawan satu."

Tawa besar keluar dari mulut Valgor, seperti deru angin badai. "Kau? Menantangku? Hanya karena kau berhasil mengalahkan anggota kami, tidak berarti kau punya kesempatan melawanku dalam wujud ini!"

Namun, sorakan bawahannya mulai memudar. Valgor menyadari bahwa menolak tantangan ini akan terlihat buruk di mata mereka. Tidak ada tempat untuk pengecut di antara Monrest.

Sementara itu di tepi arena, Kanha bergumam pelan pada Narendra. “Kenapa Lynx menantangnya dengan bicara begitu tenang? Dia tahu kita dikepung, kan?”

Narendra mengangguk sambil mengepalkan tangannya. “Dia sedang mencoba mengulur waktu. Kita harus tetap tenang.”

Rira, yang berdiri tak jauh, menatap Lynx dengan mata penuh kecemasan. “Dia tidak akan melawan monster itu sendirian, kan?”

Kanha menoleh dengan senyum kecil, meskipun suaranya tetap gemetar. “Lynx tidak pernah sendirian. Kita semua di sini untuknya.”

Valgor tidak ingin terlihat lemah dimata bawahannya. "Baiklah," katanya dengan seringai penuh taring. Valgor menghentakkan lagi kakinya ke tanah, menciptakan retakan kecil di bawahnya"Berhentilah bicara omong kosong, Lynx. Mari kita lihat apakah nyalimu sebesar tindakanmu! Aku tidak akan menahan diri. Kau akan mati perlahan, dan teman-temanmu akan melihatmu hancur di tanganku."

Lynx menoleh ke arah Karsan dan berbisik pelan, "Pastikan semua orang siap bergerak menuju terowongan. Tunggu sinyal dariku."

Karsan mengangguk, meskipun wajahnya penuh keraguan.

"Semuanya, menjauhlah dari arena!" Teriak Lynx dengan keras agar seluruh suku Raksa terhindar dari dampak pertarungan, karena kali ini dia harus bertarung sepenuh hati dan menggunakan kekuatannya yang belum dikuasai dengan baik.

"Mulai!" teriak Valgor, menutup jarak dalam satu lompatan besar.

Lynx segera bergerak ke samping, menghindari serangan cakarnya yang besar. Meskipun tubuh Valgor besar, kecepatannya tidak bisa diremehkan. Setiap ayunan terasa seperti badai yang hampir menghantam Lynx.

"Kau cukup cepat," ejek Valgor. "Tapi berapa lama kau bisa bertahan?"

Lynx tetap diam, fokus menghindari setiap serangan. Dia tahu dia harus mengulur waktu. Valgor adalah ancaman nyata, jauh lebih kuat daripada lawan mana pun yang pernah dia hadapi sebelumnya.

"Ayo, Lynx! Habisi dia!" teriak Kanha dari kejauhan, meskipun suaranya bergetar.

"Jangan tergesa-gesa!" balas Narendra, mencoba menenangkan Kanha.

Namun, setiap kali Valgor melancarkan serangan, penonton di sekitar mereka berteriak. Rira menggigit bibirnya, matanya penuh kecemasan. "Dia sengaja mengulur waktu... Tapi itu terlalu berbahaya."

Arkha, yang berdiri tak jauh, memperhatikan dengan tatapan serius. "Dia tahu apa yang dia lakukan, kita harus bersiap-siap menunggu instruksinya untuk menyerang mereka. Kita tidak akan mati begitu saja tanpa perlawanan." katanya pelan, meskipun dalam hati, dia pun khawatir.

Lynx terus menghindar, tetapi satu pukulan dari Valgor akhirnya mengenainya. Tubuhnya terpental beberapa meter, membentur tanah keras.

"Lynx!" Rira berteriak panik.

Namun, Lynx perlahan berdiri, mengusap debu dari tubuhnya. "Aku masih di sini," katanya datar.

Valgor tertawa. "Kau lebih keras kepala daripada yang aku kira. Tapi itu hanya membuatku semakin bersemangat untuk menghancurkanmu."

Serangan berikutnya lebih agresif. Valgor melompat tinggi, menebaskan cakar dan menghantam tanah, menciptakan retakan yang hampir membuat Lynx kehilangan keseimbangan. Lynx akhirnya memutuskan bahwa dia tidak bisa hanya menghindar, dia harus melawan agar dapat bertahan lebih lama. Dia dapat merasakan energi yang menjadi kekuatannya semakin berkurang. Hingga saat ini dia belum mampu mengendalikan kekuatannya dengan baik.

Dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan parang khasnya. Cahaya dari bilah parang itu memantulkan sinar matahari, membuat beberapa orang yang melihatnya menahan napas. Mereka baru menyadari senjata yang di miliki oleh Lynx sangat berbeda dengan senjata-senjata yang pernah mereka lihat.

"Sekarang aku tahu kau serius," kata Valgor dengan seringai lebar.

Lynx menyesuaikan pegangannya pada parang, tubuhnya lebih rendah, siap menyerang. "Kau akan menyesal tidak menolak tantangan ini."

Valgor menggeram dan melompat lagi. Kali ini, Lynx tidak hanya menghindar. Dia melompat ke arah serangan itu, menebaskan parangnya dengan presisi sambil menyalurkan energinya untuk memperkuat senjatanya. Dia memotong cakar Valgor dengan kilatan cahaya tajam.

Jeritan Valgor menggema di seluruh arena. Namun, alih-alih mundur, dia hanya semakin marah. "Kau akan membayar untuk ini!" teriaknya.

Valgor melompat kembali ke arah Lynx, tubuh raksasanya bergerak lebih cepat dari yang diharapkan. Cakar besar menghantam ke arah Lynx dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu. Lynx menghindar ke samping, namun kali ini karena mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya, gerakan Lynx menjadi lambat dan terkena pukulan dengan telak sehingga terbanting dengan kerasnya.

"Lynx!" Teriak Narendra, Kanha dan Rira bersamaan. Mereka sangat khawatir melihat Lynx terkena pukulan dengan telak dan keras.

"Rasakan kamu Lynx, akhirnya kamu mampus juga." Kata Banu didalam hati menertawakan penderitaan Lynx.

Semua suku Raksa panik dan ketakutan melihat Lynx yang berhasil  dijatuhkan Valgor. Harapan mereka satu-satunya terasa terbang.

Valgor tertawa terbahak-bahak karena berhasil memukul Lynx. Dia mengangkat kedua tangannya sambil membelakangi Lynx untuk menunjukan kemenangannya, yang disambut sorak gembira dari ratusan prajurit Monrest yang mengelilingi suku Raksa.

"Lumayan.", tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang punggungnya. "Tapi masih perlu lebih dari pada itu untuk mengalahkanku."

Valgor berbalik menggeram dengan marah. Didepannya, Lynx terbangun sambil menyapukan tangan ke badannya untuk membersihkan debu yang menempel. Terlihat darah mengalir dari sela bibirnya.

"Cukup kuat," geram Valgor sambil tertawa melihat kondisi Lynx. "Tapi berikutnya, nyawamu akan benar-benar tamat!"

"Lynx.... dia masih hidup." Terdengar suara-suara dari kerumunan suku Raksa. Kelegaan dan kebahagiaan menyelimuti mereka, merasa harapan tumbuh kembali.

Sementara Rira menghapus air mata yang mengalir di wajahnya. "Lynx, kamu pasti bisa."

"Kak Lynx pasti tidak akan kalah semudah itu, dia pasti menang!" Teriak Kanha bahagia.

Berbeda dengan Banu yang kecewa dan marah. "Masih belum mampus juga rupanya dia," batinnya. Dia tidak berani menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan disaat semua suku Raksa mendukung Lynx.

Saat Lynx menyeka darah di sela bibirnya, Valgor melancarkan serangkaian serangan kembali, cakarnya mengayun dari berbagai arah. Lynx terus menghindar, memutar tubuhnya dengan presisi sempurna, seolah-olah dia tahu serangan itu sebelum dilancarkan.

"Ayo, Valgor," kata Lynx dengan nada dingin. "Kau harus lebih cepat dari ini. Apa hanya itu kemampuanmu?"

Valgor menggeram, mengayunkan lengannya ke arah Lynx sekali lagi. Tapi kali ini, Lynx tidak hanya menghindar. Dengan satu gerakan gesit, dia menyelinap ke bawah lengannya, memotong sisik keras di sisi perut Valgor dengan parang bercahaya miliknya.

Jeritan Valgor menggema di seluruh arena. Tapi bukannya mundur, dia semakin marah. "Kau berani melukaiku? Kau akan membayar untuk ini, Lynx!"


